Pesona Kota Palu



Kota Palu yang berada di lembah Palu dan Teluk Palu merupakan Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Luas wilayah Kota Palu mencapai 395,06 kilometer persegi. Masyarakat asli Kota Palu adalah bersuku Kaili. Kota Palu memang rawan dilanda gempa bumi karena dilalui jalur sesar Palu Koro. Namun, kekurangan tersebut menghadirkan berbagai keindahan yang ada di Kota Palu. Di Palu kita bisa melihat gunung dan pantai bersandingan. Berbagai pesona wisata yang ada di Palu mulai dari alam, budaya hingga kulinernya.

Kampung Nelayan Talise merupakan salah satu pesona alam di Kota Palu yang hanya berjarak 3 km dari pusat kota. Destinasi ini menghadirkan panorama yang sangat indah. Dari pantai kita dapat melihat gunung-gunung yang mengitari Kota Palu sekaligus Pantai Talise. Ketika waktu weekend tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat Kota Palu untuk berenang dan menikmati panorama sambil makan pisang goreng, putu, dan nasi kuning. Ada yang datang bersama keluarga, sahabat bahkan bersama pasangannya. Menjelang sore hari tempat ini selalu ramai oleh anak-anak muda yang ingin menikmati sunset di pinggir pantai. 

Masjid Islamic Center Nurul Yaqin memiliki daya tarik tersendiri bagi warga yang melewatinya. Masjid yang terletak di Kelurahan Mamboro Barat ini berjarak 11 km dari sentral Kota Palu. Masjid ini persis berada di pinggir pantai; langsung berhadapan dengan Teluk Palu. Dengan arsitektur yang simpel dan modern tak jarang orang-orang singgah untuk beribadah bahkan berfoto di pelataran masjid. Tempat ini selalu ramai dikunjungi ketika selepas sholat ashar hingga waktu menjelang maghrib. Beberapa orang duduk di taman masjid sambil bercengkerama menikmati suasana pantai dan keindahan Masjid Nurul Yaqin. Taman masjid ini selalu menjadi spot favorit warga untuk menikmati cahaya senja, perpaduan antara biru langit, merah dan jingga dari matahari.

Wisata budaya satu ini yang diresmikan pada tahun 2014 masih eksis dan sering dikunjungi oleh warga Kota Palu ialah Monumen Nosarara Nosabatutu atau dikenal dengan sebutan Gong Perdamaian Nusantara. Pembangunan monumen ini dilatar belakangi oleh keprihatinan atas terjadinya kekerasan sosial dan konflik di wilayah Sulawesi Tengah seperti Sigi, Poso, dan wilayah lainnya yang menimbulkan duka bagi masyarakat, sehingga monumen ini merupakan simbol perdamaian di Kota Palu untuk mengingatkan masyarakat dan generasi selanjutnya agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Monumen ini berada di atas bukit yang berjarak 2 km di belakang Mako Polda Sulawesi Tengah. Karena terletak di perbukitan, dari parkiran menuju monumen kita perlu jalan mendaki dan menaiki anak tangga. Namun, itu semua akan terbayarkan ketika telah sampai di atas. Dari atas kita dapat menikmati indahnya Kota Palu yang bersanding dengan laut dan pengunungan yang mengitarinya. Panorama senjanya tak kalah indah, kita bisa melihat matahari kembali ke peraduannya bersamaan lampu pemukiman warga yang menyala, menambahkan suasana menenangkan. 

Ketika berkunjung ke Kota Palu wajib mencoba kuliner khasnya, yaitu Kaledo. Warga Palu mengatakan belum berkunjung ke Kota Palu kalau belum mencoba kuliner yang satu ini. Kaledo merupakan singkatan dari kaki lembu donggala. Sesuai dengan namanya bahan utama dari kaledo adalah kaki lembu atau kaki sapi. Pembuatannya membutuhkan proses perebusan yang panjang sehingga memiliki tekstur yang empuk. Untuk menikmati sumsum tulang kaki lembu harus menggunakan sedotan agar nikmat. Biasanya kaledo dihidangkan bersama singkong rebus atau nasi. Rasa kuah yang asam dan pedas menciptakan rasa menyegarkan di dalam mulut.

Kamaimo hauri Palu ratongoraka kami (Marilah datang ke Palu, Kami tunggu!)





Comments

Popular posts from this blog

Trade Off antara Pembangunan Pariwisata dan Kelestarian Lingkungan di Sulawesi Tengah

Tantangan Derajat Kesehatan di Sulawesi Tengah dalam Menghadapi Bonus Demografi

Tantangan Migrasi Bagi Kota Palu