Tantangan Derajat Kesehatan di Sulawesi Tengah dalam Menghadapi Bonus Demografi

Indonesia diperkirakan akan menghadapi era bonus demografi pada 2030 sampai 2040. Kondisi ini akan menguntungkan Indonesia dari segi pembangunannya. Mengapa? Karena bonus demografi adalah kondisi saat jumlah penduduk usia produktif (berusia 15 sampai 64 tahun) lebih banyak dibandingkan penduduk bukan usia produktif (berusia kurang dari 15 tahun dan 65 tahun ke atas). Sehingga untuk mencapai pembangunan dimasa mendatang dibutuhkan penduduk-penduduk yang berkualitas dan sehat mulai dari saat ini. Salah satu daerah di Indonesia yang akan mengalami bonus demografi adalah Provinsi Sulawesi Tengah.

Sulawesi Tengah adalah provinsi yang memiliki jumlah penduduk terbanyak ke-2 di Pulau Sulawesi. Menurut hasil Sensus Penduduk 2020, jumlah penduduk Sulawesi Tengah mencapai 2.985.734 jiwa.

Sumber: BPS, 2021

Berdasarkan piramida di atas terlihat bahwa kelompok umur penduduk yang mendominasi di Provinsi Sulawesi Tengah berada pada kelompok umur 15-19 tahun. Selain itu, jumlah anak usia 0-17 tahun di Sulawesi Tengah pada tahun 2019 mencapai 1.025.008 Jiwa, meningkat dibandingkan tahun 2018 yaitu sebesar 964.477 Jiwa. Penduduk yang berada pada usia tersebutlah yang akan menjalankan roda pembangunan di Indonesia termasuk di Sulawesi Tengah pada tahun 2040 untuk mencapai Indonesia Emas. Namun, setiap kondisi memiliki dampak negatif. Konsekuensi bonus demografi dengan sumber daya manusia tidak berkualitas hanya akan menciptakan dampak buruk pada pembangunan nasional. Kemudian apa saja tantangan Sulawesi Tengah dalam menghadapi bonus demografi?

Terdapat dua tantangan yang dihadapi pemerintah provinsi dalam menghadapi bonus demografi dan menciptakan SDM berkualitas yaitu prevalensi stunting. Stunting merupakan permasalahan derajat kesehatan yang cukup serius bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Stunting tidak hanya dapat memengaruhi kehidupan individu tetapi kehidupan masyarakat pun akan terganggu. Anak yang mengalami stunting cenderung sakit-sakitan, mengalami penurunan kemampuan kognitif, dan perkembangan fungsi tubuh tidak seimbang. Sehingga permasalahan tersebut akan berdampak di masa depan saat mereka berada pada usia produktif. Stunting juga merupakan salah satu tujuan ke-2 yang ingin dicapai dalam SDGs yaitu menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik.

Pada tahun 2019 persentase balita Stunting di Sulawesi Tengah berada di posisi 25 dari 34 provinsi, dengan persentase balita stunting pada tahun 2019 adalah 31,26 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan angka nasional dengan persentase 27,67 persen. Untuk menurunkan angka tersebut BKKBN melakukan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Melalui program tersebut Sulawesi Tengah menargetkan untuk menurunkan prevalensi stunting menjadi 14 persen di tahun 2024.

Terjadi penurunan stunting di Sulawesi Tengah sebesar 1 persen pada tahun 2023. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, angka stunting tahun 2023 menurun dari 28,2 persen menjadi 27,2 persen. Angka ini menjadikan Sulawesi Tengah sebagai salah satu dari 18 provinsi yang mengalami penurunan prevalensi stunting se-Indonesia. Oleh karena itu, perlunya kolaborasi yang kuat antar stakeholder pemerintahan di Sulawesi Tengah agar dapat mengatasi tantangan derajat kesehatan bagi anak-anak dalam mengoptimalkan bonus demografi.





Sumber:

Berita Resmi Statistik, Januari 2021

Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah, Analisis Profil Penduduk Sulawesi Tengah, 2022

Bonus Demografi dan Investasi pada Pembangunan Kesehatan dan Gizi – Sehat Negeriku (kemkes.go.id)

Bonus Demografi Harus Mampu Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat (mpr.go.id)

Prevalensi Stunting Turun di Sulteng, Program Bangga Kencana Berperan Penting (diklatkkbgarut.org)



Comments

Popular posts from this blog

Trade Off antara Pembangunan Pariwisata dan Kelestarian Lingkungan di Sulawesi Tengah

Tantangan Migrasi Bagi Kota Palu